Berbagi dari sebuah program tv, tepatnya acara “Minta Tolong” di chanel RCTI sore ini. Beberapa dari teman-teman mungkin sudah tahu dengan acara ini. Setiap kali ada waktu, aku sempatkan untuk bisa nonton. Seperti biasa, seseorang yang sudah ditentukan oleh pihak RCTI untuk berperan sebagai seseorang yang sangat butuh pertolongan.
Sore ini dengan pengaturan kerjasama sedemikian dari pihak RCTI dengan seorang perepmpuan setengah baya yang cacat kakinya, sehingga ia harus menggunakan sepasang tongkat untuk mampu berjalan. Bagian tugasnya adalah menemukan seseorang yang mau “menolong” dengan ikhlas, menolong dengan sepenuh hati dan spontan memang punya keinginan menolong. Misi kecil ini pun ia mulai dengan beberapa buah koran di tangannya yang hendak ia tukarkan dengan sebuah selimut untuk anaknya dirumah. Dengan bermodalkan koran-koran itu ia memberanikan dan optimis, nanti akan ada seseorang yang menolongnya. Ia bertanya kesana kemari, basa basi kesana kemari, dan meminta tolong kepada beberapa orang yang sudah banyak jumlahnya, tetapi ternyata belum juga ditemukan seseorang yang sungguh-sungguh ingin menolong. Singkat cerita sampailah ibu ini kepada seorang bapak penjual koran, yang juga adalah seorang yang cacat. Obrolan keduanya pun tercipta sebegitu rupa dan mulai ibu ini menyatakan keinginannya untuk sebuah pertolongan dari si bapak. S
eiring waktu, entah mengapa rasa dan keinginan untuk memberi pertolongan pun ada di dalam diri si bapak ini. Rasa mau menolong yang saya yakini datang dari dalam hatinya yang terdalam. Spontan dan alami. Bisa dibilang menolong baginya menjadi porsi penting di dalam hidupnya. Hari itu, ternyata dialah orang terakhir yang mau menolong si ibu ini. Koran-koran itu pun akhirnya ia terima dari ibu itu dan menukarnya dengan sebuah selimut. Pada zaman ini sulit dan langka memang menemukan seseorang yang ikhlas menolong dari hati. Seiring pengalaman saya hidup, entah mengapa yang namanya menolong orang lain menjadi sebuah kelemahan bagi kebanyakan orang. Yang paling menyentuh saya dari program ini, ketika seorang cacat menolong seorang yang keberadaanya sama dengan dirinya yaitu juga cacat. Mungkin banyak kita jumpai di dalam realita, si cacat menolong si cacat, si buta menolong si buta, dll. Tentu tidak kalah juga kita temui si normal menolong si cacat, tapi kok rasanya masih banyak orang normal yang cuek, asyik dengan diri sendiri dan terlalu nyaman atau memang yang namanya menolong menjadi tidak penting dalam hidupnya.
Karena sudah terlalu disibukkan dengan hal lain. Entahlah, ini hanya perasaan-perasaan saya saja. Tapi saya yakin si bapak ini akan menolong siapa pun, bagaimana pun keadaanya jika memang rasa menolong yang spontan dan alami itu sudah melekat dalam dirinya. Dan saya yakin setiap kita juga akan melakukan hal yang sama dengan bapak ini jika memang rasa menolong yang spontan dan alami ini ada di dalam diri kita.
/Ruth Pandia (Yogya, 26-10-10)
Tuhan berkati.. :-)
